Wednesday, 31 July 2013

Ketika Mendalang, Saya Diganggu Penunggu Pohon Berbahasa Cina

Gamelan sudah tersusun wayangpun sudah dibeber dan sound system sudah terpasang. Batteray 70 amper juga sudah tersedia dua buah, satu untuk cadangan bila yang satunya ngedrop (low batt)dan keduanya sudah dicharge full (waktu itu belum ada listrik). Amplifier Seico (bukan promosi)hanya kekuatan 60 watt sudah lumayanlah saat itu. Horn speaker merk Toa (ini juga bukan promosi lho) dua buah juga sudah terpasang. Satu didalam tarub dan yang lainnya kami gantungkan diatas pohon gunanya agar bisa terdengar dari jauh.Microphone ada tiga, satu untuk dalang satu untuk sinden dan yang satunya lagi kami gantung diatas pentas tepat diatas gender , karena gender suaranya paling lemah.
Pukul 19.00 panjak sudah mulai memukul gamelan untuk menyambut tamu datang dengan gending yang ringan-ringan (jadi gending itu ada yang berat to, kayak kasus saja).Sindenpun nglengkeng suaranya dengan lagu atau gending Rujak Jeruk.Meriah.
Tepat pukul 21.00 wayang kami mulai dengan jejeran (adegan) pertama Negara Astina. Prabu Duryudana , Prabu Baladewa, Resi Kumbayana, Patih Sengkuni dan Adipati Karna.
Setelah gending suwuk (berhenti) disambut dengan suluk,dilanjutkan dialog antara Prabu Duryudana dengan Resi Kumbayana atau Pandita Drona.
Prabu Duryudana : “ Bapa Resi Kumbayana sarawuh paduka ing pasewakan agung Nagari Ngastina kula ngaturaken sembah bekti mugi konjuk “
Resi Kumbayana : tiba-tiba …..hanciang…cui…lan…seng… sksksksk… wuan..fon..niang.. guing koang..weng..wing..ngong..sulang…langkotan..kaing..kaing( begitulah kira-kira).
Semua penonton tertawa terbahak-bahak, panjak sindenpun ikut ngakak.
Lho ? ada apa, heran, sayapun diam mendengarkan siaran radio cina tersebut.
Saya hentikan dialog antara Prabu Duryudana dan Pandita Drona. Pasalnya ada orang yang menyabotase . Suasana riuh , semua penonton panjak dan sindenpun mendengarkan suara dialog dengan bahasa cina, terkadang diselingi lagu-lagu mandarin.
“ Siapa sih kok usil nyetel radio cina” celetuk saya.
“Nggak tahu, entah siapa yang nyetel radio” jawab panjak serentak.
Pertunjukan memang saya hentikan sementara sambil mencari sumber suara radio cina tersebut.
Selama saya mendalang baru ini ada kejadian aneh seperti ini.
Amplifier kami offkan ternyata suara radio hilang, dionkan lagi datang lagi. Sampai bingung kami , tidak mungkin pagelaran dilanjutkan jika gangguan itu belum teratasi.
Mungkin amplifiernya yang kemasukan setan cina. Mau diganti amplifiernya tidak ada.
Microphone kita coba buka satu-persatu mana tahu sumber masalah itu dari microphone, tetap tidak mau pergi sisetan cina itu. Selanjutnya saya buka salah satu kabel horn speaker…….lho kok hilang suara radio cina itu. Jadi yang menjadi masalah adalah horn speaker yang digantung diatas pohon kayu.
Terpaksa malam itu hanya pakai satu horn speaker saja. Paginya setelah usai pertunjukan kami turunkan speaker yang ada diatas pohon. Padahal biasanya nggak ada masalah dengan speaker itu,tetapi disini kok membuat ulah.
Berbagaimacam celetukan kami dengar, ada yang bilang “ Pohon itu memang ada penunggunya,mungkin dia merasa terganggu kebrebegen (kebisingan), jadi nesu.”Ada yang bilang lagi “Sajene enek sing kurang menawa (sesajinya ada yang kurang mungkin).”
Penasaran saya , sambil merokok saya menganalisa apa penyebabnya gangguan itu.
Horn milik kami sendiri berarti tidak ada masalah, apakah kabel ini yang menjadi masalah.
Memang lantaran letaknya tinggi diatas pohon speaker itu kabelnya jadi kurang dua meter. Terpaksa mencari sambungannya , ada dapat pinjaman kabel tuan rumah lima meter , kabel feeder antena tv hitam putih. Kabel itu terlalu panjang lalu digulung saja , tidak mungkin dipotong karena bukan punya kami. “ Apakah ini penyebabnya” pikir saya.
Setelah minta izin pemilik kabel , maka saya potong kabel itu dengan mangambil secukupnya.Dan saya balik kabel sambungan tersebut saya letakkan dibagian bawah dekat dengan amplifier.
Saya coba hidupkan amplifier…..dan………guang ..dong.. honsu…beijing…dong …feng sudah tidak datang lagi. Pertunjukan siang harinya lancar tidak ada gangguan ( karena siang hari penunggu pohon itu mungkin sedang bepergian).
ANALISA :
Mungkin kabel feeder yang digulung diletakkan diatas pohon berfungsi menjadi antena radio, sehingga bisa menangkap siaran radio cina .
Mengapa hanya radio cina, mungkin karena radio cina wattnya tinggi atau pancarannya kuat.
Mengapa sore hari ketika uyon-uyon ,wayang belum mulai, amplifier tidak menangkap siaran radio ?
Mungkin , ini mungkin lagi, mungkin pemancar mereka sedang nggak siaran atau ada gangguan.
Sekarang malah bukan hanya radionya yang mengganggu, melainkan segala macam produk sudah membanjiri pasar Indonesia.

No comments:

Post a Comment