MENU| Home | Facebook

Saturday, 26 March 2016

Anakku dipelihara jin

Kisah mistis ini adalah kisah nyata, kisah tentang seorang ibu rumah tangga yang sedang mengandung bayinya yang berusia sembilan bulan. Namun di saat kelahiran sang jabang bayi, tiba-tiba bayinya menghilang begitu saja seolah-olah ada makhluk gaib yang mengambilnya. Anehnya, bayi yang menghilang tersebut kembali ke rahim ibunya sepuluh tahun kemudian....
Mustahil dan tak masuk di akal memang. Namun kisah mistis ini benar-benar terjadi di daerah Bekasi, Jawa Barat. Dan cerita ini pun tak diberitakan di media massa manapun. Hanya kerabat dan sahabat dekat yang mengetahuinya, dan salah satu keluarganya ialah teman dekat dari penulis sendiri. Dalam penulisan nama-nama, sengaja disamarkan oleh penulis. Berikut ini kisah mistis lengkapnya...:
Akhirnya, cita-cita untuk membentuk keluarga yang bahagia tercapai sudah dengan dikandungnya janin yang ada dalam kandungan sang isteri. Sungguh ini suatu kebahagiaan yang teramat besar bagi Hendra, pria yang selama ini begitu merindukan kehadiran seorang anak.
"Jaga kandunganmu, Mah! Jangan kerja yang berat-berat. Biar Bibi Arum yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Apalagi mengingat usia kandungamu mendekati sembilan bulan," pesan Hendra, sang suami, dengan penuh kasih sayang.
"Tentu, saranmu pasti kuperhatikan, Mas!" Ujar Nengsih, penuh kemanjaan. Namun, wajah Nengish kemudian berubah muram. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa, Mah. Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu. Katakan saja. Aku tak akan marah," bujuk Hendra.
"Begini, semalam aku bermimpi aneh. Mimpi namun seperti nyata saja. Aku didatangi seorang kakek berjenggot dan berjubah putih, lalu dia mengatakan akan mengambil anak kita untuk sementara waktu. Hingga suatu saat nanti dia akan dikembalikan kembali. Aku takut, mimpi itu akan menjadi kenyataan, Mas!" Papar Nengsih dengan mimik yang berubah tegang.
"Nengsih, isteriku! Mimpi itu hanyalah bunga tidur. Tak usah kau pikirkan, sebab mana mungkin mimpi bisa menjadi kenyataan. Jangan sampai mimpi itu mengganggu pikiran dan kesehatanmu. Ingat, jaga baik-baik bayi dalam kandunganmu!"
"Tapi, Mas...!"
"Sudahlah! Tak usah kau pikirkan mimpi tersebut, lebih baik kita tidur dan istirahat. Bukankah besok pagi kita kan pergi ke Puskesmas untuk memeriksa kandunganmu!"
Nengsih pun terdiam, mengalah mengikuti anjuran Hendera sang suami.
Pagi harinya, sekitar pukul 05.00, Nengsih perlahan-lahan menggeliat bangun. Dia membuka mata sambil menahan rasa kantuk yang tersisa. Dipandangi suaminya yang masih terlelap tidur. Matanya berpaling keperutnya sendiri sambil memeganggi dengan kedua tangannya. Tiba-tiba dia terkejut setengah mati.
"Ah, tidak...tidak mungkin!" dia terpekik dengan air mata yang secepatnya menganak sungai. Apa yang terjadi?
Ketika itu Nengish melihat perutnya sudah kempes seperti layaknya orang yang tidak hamil. Itulah yang rupanya membuat Nengsih histeris. Hendra yang mendengarkan teriakan isterinya spontan bangun. "Nengsih, ada apa?" Tanyanya dengan cemas.
"Mas, perutku tiba-tiba mengecil. Anak kita...anak kita menghilang, Mas!" geragap Nengsih dengan air mata yang telah menganak sungai. Hendra menatap perut isterinya. Dia sendiri terbelalak heran, seakan tak percaya melihat apa yang terjadi dengan isterinya. Sambil menahan rasa bingung, dia bertanya kepada isterinya, "Nengsih mengapa ini terjadi?"
Pertanyaan yang bodoh, sebab sang isteri pun tak pernah tahu apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Entahlah, Mas. Aku tak tahu mengapa ini terjadi padaku. Sewaktu aku bangun aku memeriksa perutku dan kudapati perutku sudah mengecil seperti ini. Anehnya, aku tak merasakan sakit baik di perutku maupun di rahimku," jelas Nengsih sambil menahan tangisnya. "Mas, mungkinkah kakek itu yang mengambil anak kita?" tanyanya kemudian.
"Maksudmu? Kakek yang mana?" Hendra balik bertanya dengan heran.
"Kakek berjenggot dan bersorban putih yang kuceritakan semalam. Kakek yang selalu muncul dalam mimpiku itu," jawab Nengsih. Hendra termangu antara percaya dan tidak. Akhirnya, mau tak mau dia harus mempercayai hal itu.
"Aku jadi takut, bingung, juga resah dan tak mempercayai ini semua. Tapi kuharap kita harus bersabar atas cobaan ini. Dan andaikata kakek itu yang mengambilnya, kuharap dia mau mengembalikan anak kita nanti," katanya, getir.
Akhirnya, mereka memberitahu keluarga yang letaknya memang saling berdekatan. Dan atas persetujuian keluarga, mereka pun mendatangi salah seorang Kyai terdekat. Sebutlah Kyai Abas. Menurut hasil teropong batin yang dilakukannya, anak mereka telah diambil secara gaib oleh salah seorang makhluk gaib penghuni salah satu gunung yang ada di Cirebon.
Pak Kyai tersebut menasehati agar mereka tak usah khawatir karena yang mengambil anak mereka adalah makhluk gaib dari golongan yang baik-baik. Anak tersebut akan dididik dan digembleng agar menjadi orang yang berguna dan mumpuni.
Setelah mendapat penjelasan dan nasehat dari sang Kyai mereka pulang dengan kegalauan yang sulit diobati.
***
10 TAHUN TELAH BERLALU
"Nengsih, tolong buatkan aku kopi. Gulanya sedikit saja!'
"Baik, Mas!"
Tak lama kemudian, Nengsih membawa secangkir kopi, lalu disuguhkan kepada Hendra, suaminya. Nengsih lalu duduk di samping Hendra dan berkata, "Sudah dua bulan ini aku tak datang bulan, Mas!"
Hendra pun memandang wajah isterinya. "Nengsih, coba kau katakan sekali lagi!" Hendra berkata seakan tak percaya dengan ucapan isterinya.
"Saya sudah dua bulan ini tak datang bulan, Mas!" Nengsih menegaskan.
"Berarti kamu hamil!" Ucap Hendra dengan nada gembira.
"Puji syukur kepada Tuhan. Akhirnya setelah sepuluh tahun kita menunggu sejak kehamilanmu yang hilang, tercapai juga cita-cita untuk memiliki anak."
"Saya juga merasa gembira, dan mensyukuri atas karunia Tuhan yang dilimpahkan kepada kita. Tapi, ada yang mengganjal hati saya, tentang kakek berjenggot itu. Mungkin Mas masih ingat sepuluh tahun yang lalu. Sewaktu saya hamil dan tiba-tiba anak kita yang masih dikandungan hilang secara gaib yang ternyata diambil oleh kakek itu.
Semalam dia mendatangi saya lagi melalui mimpi dan dia berkata, bahwa anak yang saya kandung, yang ada di perut ini sebenarnya adalah anak yang sepuluh tahun lalu diambilnya. Dan selama sepuluh tahun dia mengajarinya dengan ilmu lahir batin. Kakek itu juga mengatakan anak kita dididik di salah satu gunung yang ada di Cirebon," jelas Nengish panjang lebar.
Wanita kuning langsat itu melanjutkan, "Apa mungkin anak yang aku kandung saat ini adalah anak kita yang terdahulu, yang selama sepuluh tahun menghilang. Ya, dalam mimpiku, kakek berjenggot tersebut mengatakan agar kita tak usah bingung dengan fenomena gaib ini. Karena semua itu bisa saja terjadi atas kehendak Allah. Dia juga berpesan, agar anak ini dirawat dengan baik-baik."
Hendra tertunduk, seakan mengingat kembali kejadian sepuluh tahun yang lalu.
"Ah, sudahlah. Apapun yang terjadi, kita harus bersyukur dan kita harus merawat anak kita dengan baik agar menjadi anak yang shaleh!" katanya, mencoba menutupi kegusaran hatinya.
Sembilan bulan pun telah berlalu. Kemudian lahirlah anak dari pasangan Hendra dan Nengsih. Mereka pun tentu sangat berbahagia. Memang aneh, semenjak kelahiran anak itu, ternyata nasib mereka berubah. Kehidupan mereka jauh lebih baik. Anak itu seolah selalu membawa keberuntungan bagi orangtuanya.
Kehidupan mereka semakin membaik dan membawa berkah. Anak itu mereka namai Sukmajaya. Kelak anak itu dimasa yang akan datang akan menjadi orang yang mumpuni sebagaimana yang dikatakan kakek berjenggot putih yang berasal dari puncak Gunung Cirebon.
READ MORE- Anakku dipelihara jin

Wanita Taubat Nasuha Setelah Merasakan Adzab Api Neraka ::



Kisah ini dikutip dari sebuah catatan facebook, sengaja menulis kembali cerita ini dengan maksud ingin menyebarkan kisah kebesaran Allah yang maha dahsyat !
Mudah-mudahan kita menjadi umat yang diselamatkan Allah .. Aamiin ...
Selama hampir sembilan tahun menetap di Mekah sambil menguruskan jemaah haji dan umrah, saya telah melalui berbagai pe
ngalaman menarik dan yang pahit.
Bagaimana pun, dalam banyaknya peristiwa yang saya alami, ada satu
kejadian yang tidak akan pernah saya bisa lupakan. Kisah ini terjadi kepada seorang wanita yang berusia di pertengahan 30-an pada saat saya mengurus satu rombongan haji.
Setibanya wanita tersebut dan rombongan haji di Lapangan Terbang Jeddah kami sambut dengan sebuah
bus. Semuanya terlihat riang sebab ini adalah pertama kalinya mereka melaksanakan haji. Setelah itu saya
membawa mereka menaiki bis dan dari situ, kami menuju ke Madinah.
Alhamdulillah, segalanya berjalan lancar hingga kami sampai di Madinah. Tiba di Madinah, semua orang turun dari bus. Turunlah mereka satu persatu sampai
tiba pada giliran wanita tersebut.
Tanpa sebab yang jelas tiba-tiba wanita itu jatuh tidak sadarkan diri, yang secara langsung setelah menginjak bumi Madinah.
Sebagai orang yang dipertanggungjawabkan mengurus jemaah itu, saya pun bergegas menuju ke arah wanita tersebut. “Jemaah ini sakit” kata saya pada jemaah-jemaah yang lain.
Suasana yang tadinya tenang serta merta bertukar menjadi cemas dan semua jemaah terlihat panik atas kejadian ini.
“Badan dia panas dan menggigil. Jemaah ini tak sadarkan diri, cepat tolong saya,, kita bawa dia ke rumah sakit” kata saya.
Tanpa membuang waktu, kami mengangkat wanita tersebut dan membawanya ke rumah sakit Madinah
yang terletak tidak jauh dari situ. Sementara itu, jemaah yang lain diantar ke tempat penginapan masing-masing.
Sampai di rumah sakit Madinah wanita itu masih belum sadarkan diri. Berbagai usaha dilakukan oleh dokter untuk memulihkannya, namun semuanya gagal.
Sementara itu, tugas mengurus jemaah perlu saya teruskan. Saya terpaksa meninggalkan wanita tersebut di rumah sakit. Namun dalam kesibukan menguruskan jemaah, saya menghubungi rumah sakit Madinah untuk mengetahui perkembangan wanita tersebut. Namun, saya diberi kabar bahwa dia masih tidak
sadarkan diri. Selepas dua hari, wanita itu masih juga tidak sadarkan diri. Saya makin cemas, maklumlah, itu adalah pengalaman pertama saya berhadapan dengan situasi seperti itu.
Semua usaha untuk memulihkannya gagal, maka wanita itu dibawa ke rumah sakit Abdul Aziz Jeddah untuk
mendapatkan perawatan lanjut sebab rumah sakit di Jeddah lebih lengkap kemudahannya dibandingkan rumah
sakit Madinah.
Namun usaha untuk memulihkannya masih tidak berhasil. Jadwal Haji harus diteruskan. Kami berangkat ke Mekah
untuk mengerjakan ibadah haji. Selesai haji, saya langsung pergi ke Jeddah.
Malangnya, sampai rumah sakit Abdul Aziz, saya diberitahu oleh dokter bahwa wanita tersebut masih koma. Bagaimanapun, kata dokter, keadaannya stabil. Melihat keadaannya itu, saya ambil keputusan untuk menunggunya di rumah sakit.
Setelah dua hari menunggu, akhirnya wanita itu membuka matanya. Dari sudut matanya yang terbuka sedikit itu, dia memandang ke arah saya dan terus memeluk saya dengan erat sambil menangis terisak-isak. Ketika itu saya sangat bingung, Saya bertanya kepada wanita tersebut,
“Kenapa kamu menangis?”
“Ustazah … saya taubat Ustazah. Saya menyesal, saya takkan berbuat lagi hal-hal yang tidak baik. Saya bertaubat, betul-betul bertaubat.”
“Kenapa kamu tiba-tiba ingin bertaubat?” tanya saya masih dalam keadaan bingung. Wanita itu terus
menangis terisak-isak tanpa menjawab pertanyaan saya itu. Tidak lama kemudian dia bersuara, menceritakan kepada saya mengapa dia berkelakuan
demikian, cerita yang bagi saya perlu diambil hikmahnya oleh kita semua.
Katanya, “Ustazah, saya ini sudah berumah tangga, menikah dengan lelaki orang kulit putih. Tapi saya salah. Saya ini cuma Islam pada nama dan keturunan
saja. Saya tak pernah mengerjakan ibadah. Saya tidak sholat, tidak puasa, semua amalan ibadah saya dan suami tidak pernah saya kerjakan, rumah saya penuh dengan botol minuman.
Dengan suara tersekat-sekat, wanita itu menceritakan,
“Ustazah … Allah itu Maha Besar, Maha Agung, Maha Kaya. Semasa koma , saya telah diazab dengan siksaan yang benar-benar pedih atas segala kesalahan yang
telah saya buat selama ini.
“Betulkah?” tanya saya terkejut.
“Betul Ustazah. Selama koma itu saya telah ditunjukkan oleh Allah tentang balasan yang Allah beri kepada saya.
Balasan azab Ustazah, bukan balasan syurga.
Saya rasa seperti diazab di neraka. Saya ini seumur hidup tak pernah pakai jilbab. Sebagai balasan, rambut saya ditarik dengan bara api. Sakitnya tidak bisa saya
ceritakan dengan kata-kata.
Menjerit-jerit saya minta ampun minta maaf kepada Allah.” “Bukan itu saja, buah dada saya pun diikat dan dijepit dengan penjepit yang dibuat daripada bara api,
kemudian ditarik ke sana-sini … putus, jatuh ke dalam api neraka.
Buah dada saya hancur terbakar, panasnya bukan main. Saya menjerit, menangis kesakitan. Saya masukkan
tangan ke dalam api itu dan saya ambil buah dada itu kembali .
Tanpa mempedulikan pasien lain, suster pun memerhatikannya wanita itu terus bercerita. Menurutnya lagi, setiap hari dia disiksa, tanpa henti, 24 jam sehari. Dia tidak diberi waktu untuk beristirahat
atau dilepaskan dari hukuman, sepanjang masa koma itu di laluinya dengan azab yang amat pedih.
Dengan suara terbata-bata, dengan berlinangan air mata, wanita itu meneruskan ceritanya, “Hari ke hari
saya disiksa. Bila rambut saya ditarik dengan bara api, sakitnya terasa seperti kulit kepala yang ikut terlepas.
Panasnya juga menyebabkan otak saya terasa seperti menggelegak.
Azab itu pedih … pedih yang amat sangat … tidak bisa saya ungkapkan. Sambil bercerita, wanita itu terus meraung, menangis terisak-isak. Terlihat dia betul-betul menyesal atas semua kesalahannya. Saya pun termenung, kaget dan menggigil mendengar ceritanya. Sangat pedih balasan Allah kepada umat-Nya yang ingkar.
“Ustazah … buat saya, Islam hanya nama saja, tapi saya minum alkohol, saya main judi dan segala macam dosa besar. Karena saya suka makan dan minum apa yang diharamkan Allah, semasa tidak sadarkan diri itu saya telah diberi makan buah-buahan yang berduri tajam.
Buah yang tak berisi melainkan hanya duri-duri saja, tapi saya sangat ingin memakannya, karena saya benar-benar merasa lapar.
Bila ditelan buah-buah itu, duri-durinya menusuk kerongkongan saya dan bila sampai ke perut terasa menusuk perut saya. Sedangkan jari yang tertusuk jarum pun terasa sakitnya.
Setelah buah-buah duri itu habis, saya diberi makan berupa bara-bara api. Pada saat saya masukkan bara api itu ke dalam mulut, seluruh badan saya rasanya seperti terbakar hangus. Panasnya cuma Allah saja yang tahu. Api yang ada di dunia ini tidak akan sama dengan kepanasannya. Setelah memakan bara api itu, saya meminta minuman, tapi … saya dihidangkan dengan minuman yang dibuat dari nanah. Baunya cukup busuk, saya terpaksa meminumnya sebab saya sangat merasa haus. Semua terpaksa saya lalui, tak pernah saya alami sepanjang hidup di dunia ini.”
Saya terus mendengar cerita wanita itu dengan tekun. Sangat terasa kebesaran Allah.
“Semasa diazab itu, saya merayu memohon kepada Allah supaya diberikan nyawa sekali lagi, berilah saya peluang untuk hidup sekali lagi. Tak berhenti saya
memohon. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya. Saya berjanji tidak akan ingkar atas perintah Allah dan akan jadi umat yg soleh. Saya berjanji kalau saya dihidupkan kembali, saya akan
perbaiki segala kekurangan dan kesalahan saya dahulu, saya akan mengaji, akan sholat, akan puasa yang
selama ini saya tinggalkan.”
Saya termenung mendengar cerita wanita itu. Benarlah, Allah itu Maha Agung dan Maha Berkuasa.
Kita manusia ini tak akan terlepas dari balasan-Nya.
Kalau baik amalan kita maka baiklah balasan yang akan kita terima, kalau buruk amalan kita, maka azablah kita
di akhirat kelak.
Alhamdulillah, wanita itu telah menyaksikan sendiri kebenaran Allah. “Ini bukan mimpi ustazah. Kalau mimpi azabnya tidak akan terasa sampai sepedih ini. Saya bertaubat Ustazah, saya tak akan ulangi lagi kesalahan saya. Saya bertaubat … saya taubat Nasuha,” katanya
sambil menangis-nangis.
Sejak itu wanita tersebut benar-benar berubah. Bila saya membawanya ke Mekah, dia menjadi jemaah yang paling khusyuk.
Amal ibadahnya tak pernah berhenti. Contohnya, kalau wanita itu pergi ke masjid pada waktu maghrib, dia hanya akan balik kehotelnya selepas sholat subuh.
“Kenapa melakukan ibadah sampai tidak ingat waktu. kamu juga harus menjaga kesehatan. Pulanglah setelah sholat Isya, makan nasi atau istirahatlah sejenak …”
tegur saya.
“Tidak apa-apa Ustazah. saya membawa buah kurma. saya memakannya disaat saya merasa lapar.” Menurut wanita itu, sepanjang berada di dalam Masjidil Haram, dia ingin membayar sholat yang ditinggalkannya dahulu.
Selain itu dia berdoa, mohon kepada Allah supaya mengampunkan dosanya. Saya kasihan melihatkan keadaan wanita itu, takut karena ibadah dan tekanan perasaan yang keterlaluan dia akan jatuh sakit. Jadi saya menasihatkan supaya tidak beribadah keterlaluan hingga mengabaikan kesehatannya.
“Tidak boleh Ustazah. Saya takut … saya sudah merasakan pedihnya azab Tuhan. Ustazah tidak merasa, Ustazah tidak mengetahui rasanya. Kalau Ustazah sudah
merasakan azab itu, Ustazah juga akan menjadi seperti saya. Saya betul- betul bertaubat.”
Wanita itu juga berpesan kepada saya, katanya, “Ustazah, kalau ada perempuan Islam yang tak pakai jilbab, Ustazah ingatkanlah pada mereka, pakailah jilbab. Cukuplah saya saja yang merasakan siksaan itu, saya tidak mau ada wanita lain yang merasakan hal seperti yang saya sudah rasakan. Semasa diazab, saya melihat larangan-larangan Allah, salah satunya adalah setiap sehelai rambut wanita Islam yang sengaja diperlihatkan
kepada lelaki yang bukan mahromnya, maka dia diberikan satu dosa. Kalau ada 10 lelaki yang bukan mahrom melihat sehelai rambut saya ini, maka saya mendapatkan 10 dosa.”
“Tapi Ustazah, rambut saya ini banyak jumlahnya, beribu-ribu. Kalau seorang melihat rambut saya, itu berarti beribu-ribu dosa yang saya dapat. Saya berniat, sepulang saya dari haji ini, saya minta tolong dari ustazah supaya mau mengajarkan suami saya sholat, puasa, mengaji, dan mengerjakan semua ibadah. Saya ingin mengajak suami pergi haji. Seperti saya, suami saya itu Islam pada nama saja. Tapi itu semua adalah kesalahan saya. Saya sudah membawa dia masuk Islam, tapi saya tidak membimbing dia. Bukan itu saja, sayalah yang menjadi seperti orang yang bukan Islam.”
Sejak kembali dari haji itu, saya tidak mendegar cerita tentang wanita tersebut. Bagaimana pun, saya percaya
dia sudah menjadi wanita yang benar-benar solehah. Adakah dia berbohong kepada saya tentang ceritanya diazab semasa koma? Tidak. Saya percaya dia berkata benar. Jika dia berbohong, kenapa dia berubah dan bertaubat Nasuha?
Satu lagi, cobalah bandingkan azab yang diterimanya itu dengan azab yang digambarkan oleh Allah dan Nabi dalam Al-Quran dan hadish. Adakah ia berbohong ?
Benar, apa yang terjadi itu memang kita tidak dapat membuktikannya secara saintifik, tapi bukankah soal dosa dan pahala, syurga dan neraka itu perkara ghaib?
Janganlah bila kita sudah meninggal dunia, bila kita sudah diazab barulah kita mau percaya bahwa “Oh … memang betul apa yang Allah dan Rasul katakan. Aku
menyesal …” Itu sudah terlambat.
Wallahua’lam bish Shawwab ....
Raihlah 5 peluang sebelum datang 5 rintangan, Kaya sebelum miskin, Senang sebelum susah, Sehat sebelum sakit, Muda sebelum tua dan waktu Hidup sebelum mati...
Semoga kisah ini membawa kita menjadi umat yang lebih mengerti bahwa dunia bukanlah tempat terakhir, masih ada akhirat, masih ada alam lain yang sudah
menanti kita sebagai mana dituliskan dalam Al Qur’an. Semoga kita menjadi umat yang senantiasa beribadah kepada Allah. .. Aamiin ...
Barakallahufikum ....
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.
:: Semoga Bermanfaat
READ MORE- Wanita Taubat Nasuha Setelah Merasakan Adzab Api Neraka ::

Cerita Misteri Nyata "Didalam Rumah Itu Ada Pasangan Keluarga Lain Yang Tak-kelihatan"

“Satu ketika pada sekitar tahun 2008- yang lalu dua pasang Keluarga dari pihak pemilik Rumah (H.Kasman Almarhum-pen) sempat diperbolehkan mendiami Rumah besar itu oleh para Cucu-cucunya akmarhum ketika itu , namun kedua pasangan rumah tangga itu tunggang langgang pergi dari rumah tersebut karena “Katanya” mereka sering mendengar suara-suara aneh yang berasal dari kamar-kamar Kosong yang berada dirumah itu , lalu terceritakan pada suatu ketika mereka sedang berkumpul dan berembuk pada persoalan tersebut , disamping mereka seakan-akan ada keluarga lain karena gelas air yang disediakan ternyata jumlahnya bertambah dari 7 buah menjadi 10 buah padahal menurut kedua pasangan tersebut mereka hanya menaruh gelas untuk menyediakan minuman (Kopi) yang berjumlah 7 buah , kesimpulannya, mereka (Kedua Pasangan Rumah Tangga itu ) menduga bahwa pada rumah itu terdapat keluarga lainnya namun tidak kelihatan oleh pandangan kasat mata mereka !” cerita seorang Pemuda Warga Kampung Sukamulya Desa Hegarmanah Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis Jawa Barat tersebut sempat membuat bulu kuduk penulis jadi agak merinding dibuatnya ketika dia bercerita atas pertanyaan penulis tentang keberadaan sebuah Rumah Besar yang kini telah mulai kelihatan lapuk karena seakan-akan tidak terurus dan dibiarkan terlantar oleh Ahli Warisnya Keluarga yang disebutkan oleh Warga masyarakat disana Keluarga Haji Kasman tersebut.
******************************************************
Penulispun sempat mengorek informasi sederhana saja tentang keberadaan Haji Kasman (Almarhum) , seorang warga disana sempat menceritakan bahwa Dia adalah seorang warga yang terkenal Kaya Raya dengan kepemilikan sejumlah harta tak bergeraknya seperti Luas Tanah yang dimiliki oleh dia semasa hidupnya tersebut tersebar disekitaran wilayah Desa-desa yang bertetanggaan dengan Desa Hegarmanah dan konon terceritakan bahwa Dia semasa hidupnya telah tidak diperbolehkan lagi membeli tanah karena telah melebihi jatahnya seorang pemilik tanah ,
“Ya,,mungkin pihak pemerintah setempat ketika itu telah melihat gelagat yang nantinya disinyalir akan berdampak tidak baik , makanya dia (Haji kasman) itu tidak diperbolehkan lagi membeli tanah darat ataupun sawah-sawah dimanapun didaerah ini!” Ungkapan itu diucapkan oleh Ade Andang Rudiana (36) warga setempat kepada penulis.
Haji Kasman (Alm)-pun hanya mempunyai seorang Anak semata Wayang , namun misteri tentang adanya “gerakan gaib” dirumahnya belum juga terkuak , karena Anak satu-satunya itupun meninggal secara Misterius pula pada sebuah Moment “Acara” *ngalintar (*kegiatan khoby mencari ikan disungai) sekitaran Sungai Citanduy (Sungai yang membentang antara Wilayah Kecamatan Cineam Kabupaten Tasikmalaya sampai ke-batas wilayah Kota Banjar provinsi setempat).
“Saya ingat ketika itu , dia (Satu-satunya Anak Haji Kasman-pen) meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan , kepalanya berdarah dan mayatnya diketemukan pada tengah-tengah * leuwi (*Kumparan Air Sungai yang dalam) dicitanduy sekitar wilayah Cineam oleh warga yang dibantu oleh pihak Kepolisian pada saat itu!” hal tersebut diungkapkan oleh seorang warga yang nama dan identitasnya tidak ingin dituliskan.
*************************************************
*Catatan Kecil (Sekapur Sirih Penulis);
Berbagai ungkapan yang menceritakan Keseraman keberadaan Rumah yang ditinggalkan oleh Ahli Warisnya tersebut terlalu banyak versinya .
Hal itu disimpulkan oleh Penulis ketika beberapa criteria “Cerita” pengalaman beberapa warga yang katanya pernah mendengarkan suara-suara aneh dirumah Misteri itu seakan terbumbukan cerita-cerita horror yang sering penulis lihat pada tayangan terkesan “Murahan” sebuah film berthemakan Misteri (Misalnya).
Namun penulispun menyadari bahwa Ke-ghaiban sebuah Moment yang berkembang itu tidak akan terlepas dari sebuah sisi pengalaman seseorang pada Moment-moment tertentu , lalu kesimpulanya terkatakan bahwa ;
-Moment Ghaib itu jelas ada dan kriterianya sebuah Cerita dengan katagory “antara ada dan tiada “,.
Karena bila seseorang manusia menginginkan kesimpulan nyata menyatakan bahwa kejadian Misterius pada sebuah Moment tersebut harus jelas teralami dan dirasakan secara nyata oleh Manusia yang menceritakannya sebuah Moment bukan?.
Dan sebuah ungkapanpun akan dituangkan oleh penulis sendiri , bahwa hal tersebut itu terkesan dihadirkan pada sebuah dongeng katagory cerita “maya” yang tak berujung pada kesimpulan-nya seorang penulis sejati yang harus punya kesimpulan dengan dibarengi oleh Obsevasi nyata dan teralami oleh si-penulis yang bersangkutan bukan? .
Dan penelitian yang bisa dibuktikan oleh nalar normal dan tidak terpengaruh oleh apapun cerita yang berasal dari ungkapan,ucapan,dongeng dan lain-lainnya dari mulutnya orang lain , namun penulis sejati itu harus atas dasar Observasi nyata dan jangan sesekali menceritakan hal yang bersifat semu , maya dan criteria-kriteria cerita kebohongan lainnya yang mengiringi tulisan sejatinya seorang penulis tersebut itu bukan?.
***********************************************

Keberadaan Rumah itu jelas nyata adanya , dan sampai detik ini Rumah itu Kosong , keberadaannya sangat terlihat kusam , ketika penulis berusaha memphoto Rumah Besar itu terlihat reumputan pada halaman Rumah yang dulunya merupakan sebuah Rumah terbesar dikampung itu “Terkesan” sama sekali tidak diurus oleh Hak Waris pemiliknya.
“Cucu-cucunya (Alm) dia itu sekarang menempati Rumah yang dibikin oleh bapaknya ketika sebelum meninggal , dan yang diketahui oleh saya semua anggota keluarga dari Ahli warisnya almarhum sama sekali belum terlihat menginjakan kakinya dirumah besar itu!” ucap seseorang menambah deretan pertanyaan misteri-nya penulis.
Cerita seram pada lingkaran cerita tentang keberadaan Rumah Misteri itupun terus menggelinding , namun atas “Nyata-nya” penulis belum menemukan criteria kesimpulan yang berdasar pada ketentuan sebuah ungkapan “Ya atau Tidak-nya”.
Kesimpulannya ;
Cerita misteri tentang sebuah Rumah besar yang disimpulkan oleh cerita berbagai lapisan warga disana “sebagai Rumah Berhantu dan sering terlihat ada gerakan misterius dan sering terdengar suara-suara aneh” tersebut pada alamat Aslinya yang dituliskan diatas tersebut merupakan sebuah cerita “Nyata” dari berbagai deretan cerita Misteri pada dunia ini.
Keberadaan Rumah itu terlihat jauh dari “Lingkup” sebuah kampung yang dihuni oleh Ratusan Tugu Rumah dikampung tersebut, dan pada kenyataannya bahwa Rumah tersebut itu memang sangat menyeramkan ,,,,,!!. Semoga semuanya menjadi manfaat ,,,amiin

sumber : http://www.kompasiana.com/…/cerita-misteri-nyata-didalam-ru…
READ MORE- Cerita Misteri Nyata "Didalam Rumah Itu Ada Pasangan Keluarga Lain Yang Tak-kelihatan"